Correspondent Donasion
Total 23 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 16 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< When my cup is full.. then my cup is full!!
Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad” >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Betul Kang, semangat untuk memajukan bangsa Indonesia harus selalu bergelora di ...
by Bamby Cahyadi in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Puguh, salut deh dengan tetap dijalankan tugasnya disana walaupun didera ...
by Yunita Dwiana P in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Mbak Aini salam kenal juga ya, waaahhh fotonya bagus banget yang ...
by Yunita Dwiana P in Salam merdeka dari Abidjan!
Akang, tugas yang dijalankan ke pedalaman Liberia kali ini sungguh seru ...
by Yunita Dwiana P in Oleh-oleh dari Greenville
whuaaaaa akhirnya bisa juga komment di sini!!!
salut emang bisa ngejalanin ...
by uwie in Oleh-oleh dari Greenville
Wah… jadi ingat waktu naik Dash7 ke Simeulue, waktu itu taon ...
by Fina in Oleh-oleh dari Greenville
Puguh…
Ternyata baik2 aja dirimu d sana yak!! sukur deh :)
Salam ...
by Fina in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Bener seperti yang dikatakan oleh Vonny, bahwa nggak kerasa ya kita sudah hampir mau setahun nancep di negeri si bau kelek ini (meminjam istilah kawan kita yang satu ini). Saya masih ingat benar saat kita berdua terbang dari Jakarta, lalu hinggap di Bangkok dan terus mampir ke Nairobi, dan akhirnya mendarat di Monrovia, Liberia.
Sudah 1 kali semenjak keberangkatan awal saya terbang mudik, yang namanya rindu kampung halaman ternyata bergelora semakin hebat, berbanding lurus dengan jarak antara si awak ini dengan kampuang (yang jauh benar di mato ni).
Dalam perjalanan mudik tempo hari, di dalam pesawat selama mengudara dan saat transit menunggu penerbangan selanjutnya, sering kali bertemu dengan para saudara sebangsa setanah air, dimana mereka juga adalah pejuang devisa, sekaligus merangkap sebagai duta bangsa seperti halnya kawan-kawan staff UNMIL asal Indonesia lainya dan saya.
Hal yang unik saat bercakap-cakap dengan mereka [Para TKI], adalah kurangnya informasi/pengetahuan mereka akan bagian bumi Afrika, ya mulai dari nama negara apa saja yang terletak di benua ini dan banyak lagi perihal lainnya. Itu semua jelas kentara dari bagaimana rawut wajah mereka saat saya merespon pertanyaan-pertanyaan itu.
Sebelum saya cerita tentang pertanyaan-pertanyaan [yang mereka lontarkan] itu, nampaknya harus diakui bahwa meski tampang saya yang mirip dengan sederet wajah artis sinetron itu, tidak membuat mereka yakin benar kalau saya itu TIDAK kerja di Pabrik atau restoran dan mulai kumat STB-nya [Baca: Sok Tau Banget!]. Dengan logat khas renyah ke-jawa-baratan-nya, mulailah si neng geulis [Baca: Nona Cantik] disebelah saya itu bertanya;
“Mas, mas.. Agent-nya siapa sih?”
“Agent? – Agent apa ya, Mba?”
“Yee.. masak nggak tau? Ya Agent.. yang nyariin lowongan dulu dari kampung siapa? Ya itu agent-namanya..!”
Belum selesai saya mengangguk, buru-burulah dia nyeletuk lagi..
“Jangan Mba’ dong nyebutnya… panggilnya.. Teteh aja deh.. saya dari asli dari Garut! – Tau Garut dimana?”
“Ooh Garut… di Jawa Barat itu?.. Saya tau Garut ya dari Domba-dombanya.. besar-besar dan enak sekali dibuat Sate..”
“Trus, Agent-nya siapa?…Ngerjain apa sih di tempat si Mas-nya?, Pabrik Semen, bukan kerjanya? udah gitu dikasih berapa sebulan..?”
Dalam hati: “Ini dia nih.. pertanyaan tipikal TKI”
Lantaran sesi pemutaran film dilayar monitor itu sedang ada jeda, dan semua majalah di kantong depan kursi itu habis saya baca, jadilah akhirnya saya jelasin deh pertanyaan “Pabrik Semen” si Teteh disebelah ini.
Lucunya, lepas dijelasin eh, malah terus aja nanya-nanya lainya, bak anak SD yang sedang mengikuti pelajaran geografi. (Cape deh!).
“Haa…!!!, Liberia…?? Afrika??? Jauh amat kerjanya, Mas?.. Afrika khan tempatnya orang-orang item itu khan? – apa nggak takut?”
Akhirnya sembari menunggu sesi hidangan di pesawat, sedikit demi sedikit mencoba menjelaskan tentang Liberia dan bagaimana dari Indonesia rute perjalanan udara-nya hingga sampai disana.
Harper, Maryland County adalah lokasi dimana saya bekerja, bukanlah di Ibukota Liberia, Monrovia. Melainkan masih terus ke pedalaman, dimana bila ditempuh dengan jalan darat, dengan kondisi jalan saat ini, mungkin memerlukan 4-5 hari. Lihat saja dari foto-foto dibawah ini, pasti terbayang seperti apa buruk kondisi jalan disana. Tidak heran banyak dijumpai kendaraan yang harus menginap menunggu pertolongan orang lain yang lewat untuk menderek atau memindahkan barang angkutan itu, tidak ada tempat peristirahatan dan/atau warung, kecuali berjalan kaki 2-3 jam sampai menemukan kampung berikut.


Kota kecil yang sepi sekali, jauh sekali perbandingan-nya bila ingin disamakan dengan Pekan Baru atau kota-kota disekitarnya. Berikut beberapa foto yang menggambarkan suasana pusat kota.





Nah, pusatnya saja seperti ini, terbayang seperti apa gambaran-nya bila sedikit bergeser keluar.
Mengurusi pengaturan/manajemen bahan bakar adalah bidang yang saya geluti. Sebuah tanggungjawab yang bukan kepalang pentingnya (serta pusingnya). Mengatur permintaan logistik dan distribusinya kepada pengguna, yaitu kendaraan operasional UNMIL, patroli reguler para Military Observer serta kebutuhan BBM kendaraan tempur dari batalion Senegal yang bertugas menjaga keamanan di Harper serta kebutuhan BBM generator yang menerangi kantor UNMIL dan gedung Headquarters-nya di Harper.



Untungnya, sebagai staff UNMIL yang bekerja di daerah pelosok, kita mempunyai dukungan transportasi udara yang solid dan reguler. Penerbangan dengan helikopter secara reguler melayani kegiatan rotasi personil, baik itu mengantar anggota military peacekeepers dan staff sipil, serta mengangkut barang-barang re-supply kebutuhan pasukan. Semua ditempuh melalui jalan udara selama 2 jam. Kontingen Aviasi dari Republik Ukraina dan Kontraktor Aviasi dari Russia adalah penunjang kebutuhan transportasi udara UNMIL.

Terbang dengan helikopter, jenis Mi-8Tv ini, tidaklah senyaman seperti bepergian dengan menggunakan pesawat jet. Getaran mesin baling-baling dan rotornya itu kencang dan kuat sekali, persis seperti duduk disebelah mesin generator raksasa!. Kalau tidak menggunakan headphone pelindung telinga, bisa-bisa saat mendarat menjadi “Budi” [Baca: Budek Dikit]. Saat kali pertama terbang dengan helikopter ini, pas diberikan sepasang headset ini, saya pikir akan terdengar suara musik atau hiburan audio macam seperti di pesawat komersil itu.. saya tanyalah kepada kawan penumpang yang duduk disebelah:
“Hey, mas.. mas.. ini kok nggak ada musiknya sih?”
Dia hanya tertawa-geli saja.. kemudian barulah mengerti bahwa ini [si Headphone] hanya untuk melindungi polusi suara dari gemuruhnya mesin/baling-baling.
Mas Donasion,
Seru memang mbaca ceritanya.. saya juga pernah berkunjung ke Harper pada 2005 & 2006, memang sepi sekali kota-nya tapi tenang sekali cocoklah sekalian piknik. :D
Kebayang yah, kalau weekend acaranya kemana aja? Ada shopping mall nggak disana? (heheheh – kabuur!). Ohya, dengar-dengar mau pulang kampung ya? – boleh dong titip bawakan oleh2 sampai ke Bandara Cengkareng yah? :D
Waaahh… kotanya sepi sekali… Tapi salut buat anda yang bisa bertahan disana… Siapa tahu anda bisa memajukan kota? gimana caranya?
“nampaknya harus diakui bahwa meski tampang saya yang mirip dengan sederet wajah artis sinetron itu,”
hahaha. klelegen dondong
itu jalanan menuju kota ndesit banget. seperti kampungku jaman aku masih kecil. jalanan lebih mirip kubangan kerbau daripada jalan raya. setelah banjir, kita bisa mancing belut di tengah jalan. beneran ini.
tapi apa iya di afrika ada belut?
dear sir…salut akan tanggung jawab nya..cerita yang sangat menarik dan mengundang senyum.Kebayang bagaimana expresi anda ketika menjawab pertanyaan2 dari si teteh itu.hehehe..Tapi ri yakin si teteh tidak menyadari bahwa dia baru saja bertemu dengan orang yang boleh di bilang “Low Profil High Profit” cieee.
Seorang dengan intelektualitas diatas rata2 yang memiliki kemuliaan hati untuk mendukung perdamaian dunia…wow..hebat tenan lho kui….( Plus rela n tahan banting menahan rindu…hehehe)
Oke tetap semangat n di tunggu cerita seru lainnya.Btw foto nya bagus banget..
Wah mas , saya kagum deh dengan dedikasi dan tanggung jawab mas pada pekerjaan ya, sanggup tinggalkan keluarga di Indo dan kerja di luar negeri yang sangat jauh jaraknya. Juga mengingat pentingnya pekerjaan yang diemban membuat saya juga jadi speechless karena cuma bisa bilang saluuut .Apalagi kalau melihat foto-foto tentang daerah dan beratnya medan tempat mas bertugas ini. Tapi ceritanya seru banget.
wah seru kali ya perjalanannya mas? saya pernah tugas sebagai PNS di flores. disana juga sepi. tapi mungkin lebih sepi afrikanya. hehehe nice blog sir… salam kenal.
SALUT BUAT PAK DON!!! TERUSKAN 2 PERJUANGAN MULIA YAITU UNTUK MERUBAH KEHIDUPAN KELUARGA YANG LEBIH BAIK KE DEPAN DAN MENJAGA PERDAMAIAN DI LIBERIA.
Ha ha ha, sebenarnya ngga beda banyak kok sama si teteh itu
sama sama jadi TKI
Hehehehe… Sama kalau saya pulang kampung juga bingung mau njelasin kerjaan saya apa.
Salut dan tetap semangat Da yo. Bilo ka baliak kampuang ko Da. Basuo awak di Pekanbaru yo Da yo. Bacarito-carito lamak awak ndak?
Hehehe…
wuahh…so interesting….salut sama kerjaannya dan cita-citanya, we all have our own little role to play in making this world a better place to live in….mampir2 lagi yah ke blog gue..:)
weleh…weleh…ku juuga mau ikutan jadi peacekeeping neh…
jangan jauh-jauh kalo bisa…(Pengantin Baru)
setelah umur 30 deh…ku ikut jejak pak don keliling dunia sesuai hobi dan mendapat uang…hehe23x….
Dear Pak Don,
Saya bangga dengan Pak Don, sebagai teman di satu payung sejak di IFRC dan BRCS, eee sekarang di UN cuma beda negara dan misi aja pak ya.
terus terang pak, artikel bapak ini hampir sama dengan cerita saya waktu saya masuk di BRCS Teunom – Aceh Jaya. dan itu adalah pengalaman pertama saya meninggalkan Istri dan Keluarga. (inget g pak) yang saya sms waktu mau numpang tidur di kamar bapak.
dan sekilas suasana nya persis kaya teunom ya pak, bedanya mungkin dari bentuk bangunan nya yang teramat klasik, jadi ingat batavia taun 10’an ya hehehhee….
apalagi foto yang dari mobil, itu mah persis banget kayak Pasi Teube – Teunom. yang kalo ujan gede emang udah teblokir aja di atas sana, dan sialnya lagi saya sempat ngerasain 2 bulan sendirian di perkampungan….fuiiiihhh……..kebayang ga ya.
hehehe… tapi pak, dengan menulis artikel seperti ini bisa jadi media penghilang stres s dan home sick ya. bisa curhat2an disini…
anyway Sir, good luck for your career.
always be a powerful man and be a lovely dad
please let me know one time you’re in Indonesia, who knows you will have journey to Medan or Aceh.
Keep aware and safety ya
Wassalam…
Wah pak Don, its such an incredible story, membuka mata dan pandangan baru tentang kehidupan dibelahan dunia lain, Harper, Maryland County.
Saya merasa bangga sekali, selaku eks asistannya pak Don, klo teman-teman bilang dulu “anaknya pak Don” hehehehehe..
Pesan saya cuma satu pak, JANGAN BERHENTI MENULIS yaah.
Saya menantikan cerita-cerita menarik lainnya.
Tetap berjuang yah pak… All de best
Salut Pak, salut banget bisa mengemban tugas kayak gini…Salam dr Flores, thanks udh mampir at my home…
kerja sampeyan mulia banget.. dan pastinya pengalaman yang tak terbayar…
jos tenan… pengen aku,…mlaku mlaku tok, lek kerjo nang kono ya embuh hehe,
jawa masih enak, murah meriah, ceweknya ayu ayu…
kalao balik ke endonesa ..boleh kok ngasih oleh oleh.. hehe
iya mas… ngaku aja… agent-nya siapa sih? saya kan juga pengen ke sana… haha…
Foto fotonya membuat saya kepingin bersua dinegeri lain mas… menengok apa yang terjadi di dunia sana :)
Ternyata dibelahan bumi yang lain juga terdapat kehidupan yang tidak berbeda dengan kita di negeri ini (dari foto2nya)…..
Senang bisa bisa mampir ke blog Mas yang bagi saya luar biasa, teruslah semangat, sebarkan perdamaian keseluruh dunia….
salam Pak,… kunjungan perdana yang begitu menggoda, ceritanya membawa saya seakan berada disana,… tetap semangat Pak,…. salam dari Padang
wow….kunjungan perdana yg mengesankan….. mantaaaab
negeri bau kelek. keleknya sapa seh kang ???? :D
alloo, pak…
hehehe, baru tau ada negara yang bau kelek. langsung ilang deh nafsu makan saya begitu membayangkan aromanya. huhuhu…
blognya membawa wawasan baru buat saya. seneng bisa kenal sama bapak.
huahh.. afrika.
gak beda ma tempat saya di Papua pak.
salut ma kerjaannya.
saya juga pengen kayak gitu, tapi di Papua aja deh.
doakan ya pak.
Sukses selalu disana.
(aih malu saya, baru tau monrovia itu apa dan dimana)
jedot2 pala
« When my cup is full.. then my cup is full!! Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad” »